Pandan Betawi

Suji,[1] suji hijau atau Pleomele angustifolia[2][3] (Dracaena angustifolia) adalah tumbuhan perdu tahunan yang daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pewarna hijau alami untuk makanan. Daun suji memberi warna hijau yang lebih pekat daripada daun pandan wangi, yang juga merupakan sumber warna hijau, tetapi daun ini tidak memiliki aroma. Salah satu makan yang menggunakan daun suji sebagai pewarnanya ialah kelepon.

Uraian

Selain dimanfaatkan sebagai pewarna, tumbuhannya biasa ditanam di pekarangan karena bentuknya yang indah dan bunganya yang menyebarkan aroma wangi, terutama pada sore hari. Bunga majemuk tersusun dalam karangan dengan mahkota bunga berwarna putih kekuningan, kadang-kadang dengan semburat ungu. Kultivar hias telah dikembangkan dengan daun variegata (loreng hijau kuning).

Pengobatan tradisional Asia Timur mengenal rimpang dan akar suji sebagai sumber tonikum dan diduga berkhasiat mengobati leukemia.[4]

Manfaat

Sakit maag adalah penyakit yang sering terjadi di masyarakat. Namun ada yang memandang sakit maag itu merupakan penyakit yang ringan dan dapat diabaikan. Padahal bisa sebaliknya. Terjadinya penyakit maag karena disebabkan oleh kurang teraturnya makan dan bisa karena kurang tidur yang tidak diimbangi dengan pola makan yang cukup. Bisa juga karena stres. Terjadinya maag karena adanya luka atau peradangan lambung yang disebabkan ketidakteraturan dalam pola makan yang sehat.

Nah, ini ada obat herbal yang mudah dan murah. Khasiatnya sudah diuji oleh penulis dan beberapa teman kantor. Penyakit maag akhirnya bisa enyah dari tubuh.

Anda tahu pandan betawi? Daunnya bisa untuk pewarna kue. Ternyata, buahnya sangat bermanfaat sebagai obat herbal. Pada umumnya pandan betawi akan berbuah kalau pohonnya sudah cukup tua dan buahnya bertahap dari warna hijau, kuning kecoklatan, dan akhirnya menjadi merah matang. Bentuk buah pandan betawi, bulat kecil dan keras. Baisanya pohon pandan betawi ditanam sebagai pelengkap taman atau tumbuh di pinggir pinggir jalan.

Untuk mebuat obat herbal dengan buah panda betawi diperlukan minyak kelapa yang dibuat dari kelapa hijau (blondo kalau orang Jawa bilang). Yang dimaksud dengan buah kelapa hijau adalah kelapa yang benar-benar kelapa hijau (bukan kelapa muda), yaitu kalau dikupas kulitnya terlihat warna kemerahan. Jadi bukan asal kelapa yang kulitnya hijau.

Palem Putri

Palem Putri (veitchia merillii) sudah dikenal umum di kalangan masyarakat luas bahkan seluruh dunia. Palem Putri sering digunakan sebagai hiasan di pekarangan rumah ataupun difungsikan sebagai tanaman penyearah jalan, peneduh sekaligus untuk memperindah penampilan tanam kota.

Uraian

Palem Putri adalah tanaman hias yang bersifat kosmopolitan, keberadaannya ditermukan di daerah tropis dan subtropis, di dataran rendah dan tinggi, di pegunungan dan pantai, di tanah subur dan gersang.
Bentuk Palem Putri sekilas seperti palem raja, daunnya lebih lebar dan warna lebih hijau. Tanaman ini berasal dari Madagaskar, banyak dimanfaatkan sebagai penghias pinggir jalan dan juga tanaman hias daun dalam pot.

Selama pertumbuhannya, Palem Putri memerlukan penyinaran matahari penuh. Pada waktu perkecambahan dan pembibitan sebaiknya jangan terkena sinar matahari yang langsung. Suhu udara yang diperlukan adalah 25-33 derajat C, dan masih tumbuh baik di luar kisaran suhu udara tropis tersebut.

Klasifikasi botani:

  • Divisi : Spermatophyta
  • Sub divisi : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledonae
  • Keluarga : Aracaceae (Palmaceae)
  • Genus : Archontophoenix,Mascarena, Cyrtostachys, Roystonea
  • Spesies : Ravenea sp. (palem putri);

Puring

Puring,[1] puding atau kroton (Codiaeum variegatum) adalah tanaman hias pekarangan populer berbentuk perdu dengan bentuk dan warna daun yang sangat bervariasi.

Beragam kultivar telah dikembangkan dengan variasi warna dari hijau, kuning, jingga, merah, ungu, serta campurannya. Bentuk daun pun bermacam-macam: memanjang, oval, tepi bergelombang, helainya “terputus-putus”, dan sebagainya.

Puring cocok untuk ditanam di wilayah terbuka, walaupun tidak tertutup kemungkinan dijadikan tanaman hias di dalam ruangan.

Uraian

Sebenarnya masyarakat Indonesia sudah lama mengenal tanaman puring (Codiaeum variegatum). Namun sama seperti kamboja, tanaman yang berasal dari maluku ini lebih dikenal sebagai tanaman pagar atau tanaman kuburan. Keadaan tersebut membuat keberadaanya tidak begitu di perhatikan para penggemar tanaman hias. Barulah setelah booming tanaman hias, puring menjelma menjadi salah satu tanaman hias yang banyak diburu oleh para penggemar tanaman.

Daya tarik puring terletak pada keunikan daunnya yang berhiaskan corak indah dengan warna warni yanng menawan. Bentuk daunnya sangat bervariasi, dari yang panjang, lebar, bulat , kecil hingga menyerupai burung dan pesawat. Corak daunnya pun kaya variasi, ada yang bergaris garis totol totol dan kotak kotak mirif motif tempurung kura kura. Keunikan bentuk daun tersebut diperindah dengan warna warna yang mencolok seperti merah, ungu, orange, kuning dan hijau pekat. Karena itu, wajar saja jika tanaman puring sangat cocok sebagai elemen untuk memperindah taman rumah. Selain indah, ternyata puring juga memiliki kelebihan lain salah satunya adalah dapat menyerap gas beracun yang ada di udara. Karena itu, tanaman ini juga cocok dijadikan sebagai pagar hidup untuk membatasi halaman dengan jalan raya.

 

Manfaat

Tanaman puring juga memiliki manfaat sebagai tanaman berkhasiat obat dan dapat menyerap unsur timah hitam yang berasal dari sisa pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor (2,05 mg/lt).

Penyebaran

Secara botani, puring adalah kerabat jauh singkong serta kastuba. Ciri yang sama adalah batangnya menghasilkan lateks berwarna putih pekat dan lengket, yang merupakan ciri khas suku Euphorbiaceae. Puring berasal dari Kepulauan Nusantara namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropika dan subtropika, serta menjadi salah satu simbol turisme.[butuh rujukan]

Klasifikasi

Kerjaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Subdivisi : Magnoliophytina
Kelas : Rosopsida
Sub Kelas :Dilleniidae
Super Ordo : Euphorbianae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Codiaenum
Spesies : Codiaenum variegatum

Morfologi

Daun
Sebagai daya tarik utama, morfologi daun puring memiliki banyak variasi bentuk, corak dan warna. Bentuk daun puring sangat beragam dan unik, diantaranya ada yang berbentuk spiral, ada yang panjang mirip dasi, ada yang mirip buah jengkol, ada yang bulat mirip apel, ada yang menyerupai sendok dan ada juga yang mirip pesawat jet. Keunikan bentuk daun tersebut diperindah oleh motif abstrak dan warna warni cerah yang menhiasi daun puring.

Batang
Batang tanaman puring merupakan batang tunggal dengan sedikit percabangan. Di alam bebas, batang puring dapat tumbuh tinggi hingga mencapai lima meter. Batang dan cabangnya yang berkayu menjadikan puring sangat cocok diperbanyak dengan cangkok dan stek batang.

Bunga
Bunga puring muncul berjajar pada tandan bunga yang tumbuh di pucuk tanaman. Saat belum mekar, morfologi bunga puring berbentuk bulat kecil. Saat mekar, jumlah helai bunganya bervariasi ada yang berhelai lima buah tetapi ada juga yang sampai belasan. Warna bunga puring juga bermacam macam, tergantung pada jenis puringnya.

Akar
Akar puring terdiri atas akar serabut. Akar yang seperti ini diperlukan oleh puring untuk menahan terpaan angin kencang, mengingat di alam puring dapat tumbuh hingga lima meter.

Talas

Talaskeladi,atau seratah (Colocasia esculenta ) adalah tumbuhan penghasil umbi-umbian yang cukup

penting.

Uraian

Tanaman ini berasal dari suku talas-talasan atau Araceae. Diduga asli berasal dari Asia Tenggara atau Asia Tengah bagian selatan, talas diperkirakan telah dibudidayakan manusia sejak zaman purba, bahkan pada zaman sebelum padi ditanam orang.[4] Kini talas telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk IndiaTiongkokAfrika Barat dan Utara, dan Hindia Barat.[4] Talas merupakan makanan pokok, selain sukun, di beberapa kepulauan di Oseania. Di Indonesia, talas populer ditanam di hampir semua daerah.

Banyak nama dalam bahasa-bahasa daerahnya yang merujuk pada umbi ini, misalnya talé, kĕladi, sukat, suhat, seuhat, suwat (Bat.); taro (Nias); taléh, kaladi, kuladi (Min.); talos, kĕladi (Lamp.); talĕs, kĕladi, kujang, luèh (Day.); taleus, bolang (Sd.); tales, janawari (Jw.); tales, kaladi (Md.); talĕs, kladi (Bl.); talé, koladi, kolai, kolei, korei, kore (aneka dialek di Sulut); aladi, suli, kosi, paco (Sulsel); lole, ufi lole (Timor); inane, inano, inan, ina wuu, ronan, kětu, etu, hakar, wakal, gwal (berbagai pulau di Maluku); bètè, ota, dilago, komo (Maluku Utara); nomo, uma, warimu, hèkérè, sèkéré, ifen, yéfam (Papua).[5] Sementara talas dalam bahasa Inggris disebut taro, old cocoyam, dasheen, dan eddoe.[4]

Pengenalan

Herba, dengan semacam umbi yang disebut bonggol (Ingg.corm, umbi bonggol) yang tumbuh di bawah tanah; tingginya 0,4-1,5 m.Daun-daun 2-5 helai; dengan tangkai berwarna hijau, bergaris-garis hijau tua atau keunguan, 23-150 cm, pangkalnya berbentuk pelepah; helaian daun 6,60 × 7,53 cm, bundar telur, jorong, atau lonjong, dengan ujung meruncing, kadang-kadang berwarna keunguan di sekitar menancapnya tangkai, sisi bawahnya berlilin, taju pangkalnya membulat.[6]

Perbungaan terjadi di dalam tongkol di ketiak, bertangkai 15-60 cm. Seludang bunga 10-30 cm, terdiri atas dua bagian, yang atas lebih panjang, kuning oranye dan rontok. Tongkol berwarna mentega pada bagian jantannya. Buah buni berwarna hijau, lk. 0,5 cm. Biji berbentuk gelendong, beralur membujur.

Manfaat

Talas terutama ditanam untuk dimakan umbinya, yang merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting. Namun umbi ini mengandung getah yang gatal, yang berbeda-beda ketajamannya menurut jenisnya, sehingga harus dimasak terlebih dulu sebelum dapat dikonsumsi. Memakan talas tak boleh berlebihan, karena ia mengandung getah yang mengakibatkan gatal. Terlalu banyak memakan talas menimbulkan rasa begah dan gangguan pencernaan.[7] Umbi talas dapat diolah dengan cara dikukus, direbus, dipanggang, digoreng, atau diolah menjadi tepung, bubur, dan kue-kue.

Di beberapa daerah di Indonesia di mana padi tidak dapat tumbuh, antara lain di Kepulauan Mentawai dan Papua, talas dimakan sebagai makanan pokok, dengan cara dipanggang, dikukus, atau dimasak dalam tabung bambu. Di Hawaii dan beberapa bagian Kep. Polinesia, umbi talas dikukus dan ditumbuk untuk dibuat pasta yang selanjutnya dapat difermentasi untuk menghasilkan puding.[4] Di Jawa dan juga di tempat-tempat lain di Indonesia, umbi talas dikukus atau digoreng untuk dinikmati sebagai camilan.

Di samping umbi, daun dan tangkai daun talas yang muda dapat dimanfaatkan sebagai sayuran. Sayur lompong dari Jawa Barat adalah sejenis gulai yang memanfaatkan bagian pucuk dan tangkai daun talas yang muda,[5] dimasak dengan atau tanpa santan kelapa. Daun-daunnya yang muda terkenal sebagai pembungkus buntil yang disukai.[4]

Daun talas, tua atau muda, juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan gurame. Daun, tangkai daun, dan umbinya digunakan sebagai campuran pakan ternak, terutama ternak babi.[4]

Daun talas berbentuk perisai yang besar. Daun ini dapat digunakan sebagai pelindung kepala saat hujan. Permukaan daunnya ditumbuhi rambut-rambut halus yang menjadikannya kedap air, yakni air akan mengalir langsung meninggalkan permukaan daun tanpa membasahinya. Karena lebarnya, daun talas dapat digunakan sebagai pembungkus, misalnya untuk ikan basah, di pasar tradisional.

Rasa talas itu sendiri manis dan pedas, dan sifatnya netral. Umbinya sedikit beracun, berkhasiat anti-radang, dan mengurangi bengkak. Daun dan tangkainya bersifat astringen. Umbi dan tangkai daunnya mengandung tepungvillosepolifenol, dan saponin. Daunnya mengandung polifenol. Untuk pemakaian luar, cuci daun berikut tangkainya, lalu giling hingga halus. Turapkan ia ke borokbisul, atau bagian yang terkena air panas.