Kerai payung

Kerai payung (Filicium decipiens) atau ki sabun adalah spesies tanaman dalam suku lerak-lerakan (Sapindaceae). Tumbuhan ini berasal dari Asia tropis dan Afrika, yaitu: EthiopiaKenyaTanzaniaMalawiMozambiqueZimbabweIndia, dan Srilanka. Saat ini kerai payung telah tersebar di berbagai daerah, terutama daerah tropis termasuk di Indonesia.[2]

Pemerian

Tinggi pohon dapat mencapai 25 m. Bentuk tajuknya bulat atau semiglobular sehingga membentuk seperti payung. Tanaman ini memiliki cabang yang banyak dengan tinggi bebas cabang yang rendah, bahkan ada yang hanya beberapa centimeter saja di atas permukaan tanah. Cabang tumbuh menyudut tajam ke arah atas menjadikan bentuk tanaman ini cukup indah. Kondisi cabang tanaman inilah yang menyebabkan pemanfaatan kayunya kurang maksimal. Dengan adanya cabang yang sangat banyak, pada umumnya tajuk tanaman ini rimbun berdaun lebat sehingga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh.[2]

Batang kerai payung berwarna abu-abu kecoklatan dengan kulit batang retak-retak tidak teratur dan pada umumnya arah retakan vertikal. Dalam retakan tersebut, batang terlihat sedikit kemerahan.[2]

Kerai payung memiliki bunga sempurna yang terdapat benang sari dan putik. Susunan bunganya adalah bunga majemuk. Bunganya berukuran kecil, berwarna putih kekuningan, ukuran tangkai bunga kecil yaitu 0,3 cm. Malainya muncul dari ketiak daun yang dekat dengan ujung ranting. Panjang malai antara 10-35 cm. Sama halnya dengan bunganya, buah tanaman ini berukuran sangat kecil, pada tiap buah umumnya berisi satu biji. Buah termasuk tipe buah batu berbentuk bulat memanjang berukuran lebar sekitar 0,6 – 0,8 cm dan panjang sekitar 0,9 – 1 cm dengan warna ungu kehitaman dan mengkilat.[2]

Kegunaan

Di Indonesia, kerai payung banyak ditemukan di pinggir jalan, halaman kantor dan sekolah sebagai pohon peneduh, peredam kebisingan dan pemecah angin. Bentuk tanaman ini cukup menarik dengan daun yang rimbun sehingga memiliki fungsi estetika untuk ditanam di taman, halaman rumah, atau sebagai pagar alam. Tanaman ini juga dapat digunakan pada ruang terbuka hijau sempadan rel kereta api. Daya transpirasi tanaman ini rendah sehingga baik ditanam pada ruang terbuka hijau, dan di dekat sumber air.[2]

Tanaman ini memiliki daya reduksi yang tinggi terhadap timbal yang merupakan emisi dari kendaraan bermotor, sehingga baik digunakan sebagai pohon penyerap polusi. Kayu tanaman ini digunakan sebagai kayu bakar karena banyak cabang yang dapat dibuat arang. Tanaman ini disebut ki sabun karena seluruh bagian tubuhnya mengandung saponin atau zat kimia yang menjadi salah satu bahan sabun.[2]

Mangga Madu

Mangga jenis ini dinamakan Mangga Madu karena rasanya yang sangat Manis mirip Madu, bahkan saat masih muda pun, Buah ini hanya memiliki sedikit rasa asam bahkan tidak ada rasa asam sama sekali. Buah yang sudah matang biasanya dikonsumsi langsung atau dibuat jus, sedangkan buah yang masih muda dibuat Rujak. Buah ini sering dijual di Pasar, Supermarket dan Pedagang Buah saat Musimnya.

Selain Mangga Madu, Mangga ini juga dikenal dengan mangga Lalijiwa meskipun Mangga ini bukan spesies Mangifera lalijiwa tapi Mangga ini dinamakan Lalijiwa karena jika memakannya, rasanya yang enak akan membuat orang lupa diri dan ingin tambah lagi mirip Lalijiwa dan Manalagi. Mangga ini juga kerap disebut sebagai Mangga manalagi, padahal Mangga Madu dan Manalagi adalah 2 kultivar yang berbeda. Mangga Madu juga berbeda dengan Mangga gadung

Pemerian botanis

Daerah asal Mangga Madu ini belum diketahui, tapi yang pasti Mangga jenis ini sudah banyak ditanam masyarakat sejak dulu, Pohonnya bisa mencapai tinggi sekitar kurang lebih 10 meter dengan bunganya yang tidak ada bedanya dengan Mangga jenis lainnya. Bunga Mangga jenis ini memiliki warna putih kekuningan. Daun Mangga Madu berwarna hijau tua berbentuk lonjong dengan ujung meruncing dan terdapat Tulang Daun Primer, sekunder dan tersier. Ukurannya sekitar kurang lebih 29 centimeter dengan tangkai daun memiliki panjang 3 centimeter Daunnya jika diremas akan mengeluarkan aroma khas yang mirip dengan aroma buahnya. Daun mangga ini termasuk daun tunggal. Daun yang masih muda berwarna Merah muda. Seperti Mangga lainnya, Mangga Madu juga akan mengeluarkan getah apabila dilukai. Getah mangga Madu berwarna putih. Buah termasuk tipe buah batu (drupe) dengan ukuran kurang lebih 17-20 centimeter dengan bentuk Bulat dan adapula yang Lonjong. Kulit buah berwarna hijau kebiruan dengan semburat kuning ketika matang dan memiliki bintik-bintik berwarna putih. Jika dibelah isi dari buah ini berwarna Kuning tua dengan warna hingga disekitar bijinya. Daging buah beraroma harum, bertekstur lembut dan berair dan rasanya sangat manis. Bijinya berjumlah satu. Biji poliembrioni.

 

Hama dan Penyakit

Karena rasa buahnya yang sangat manis, buah ini sangat disukai Kelelawar dan Lalat buah yang larvanya sering ditemukan dalam buah mangga ini, terutama saat Musim Penghujan, buah yang terserang lalat buah akan membusuk dengan warna kulit hitam dan ketika buah ditekan maka larva lalat buah akan keluar dari dalam buah. Selain itu, sering ditemukan kutu Aphids dan Kutu Kebul atau Kutu Putih.

Mangga ini juga rentan terkena Cendawan Jelaga.

 

 

Melati Belanda

Ceguk (Combretum indicum) adalah perdu dengan akar yang merambat atau memanjang dengan panjang dari 2-8 m yang berasal dari Myanmar dan bisa ditemui di ketinggian 600 mdpl. Ceguk dikenal pula dengan nama dani, udani, wudani (Melayu), bidani (Sunda), kacekluk, kaceklik, ceguk, cekluk, wedani (Jawa), rabet dani (Madura), kunyi-rhabet, rhabet besi, sarandengan (Kangean), dan tikao (Bugis).[1] Selain itu tanaman ini juga dikenal  dengan nama Melati Belanda.

Salah satu tanaman menawan yang sering digunakan untuk pagar rumah atau kanopi adalah Tanaman Melati Belanda (Quisqualis Indica). Tanaman ini juga sering disebut sebagai Chinese Honeysuckle. Bagaimana cara menanam Melati Belanda?

Tanaman Melati Belanda sangat menarik terutama karena kombinasi warna bunga dalam tangkai yang merupakan campuran merah, pink, putih dan hijau. Campuran warna dalam tangkai ini terjadi karena, pada batang yang sama ada banyak bunga yang mulai mekar secara bertahap. Kuncup-kuncup bunga berwarna hijau segar. Saat mereka mekar kemudian bunga-bunga merah keluar, untuk pudar berikutnya merah muda dan putih. Terlihat sangat cantik, feminin dan romantis.

Jika kita lewat di dekatnya, kita tidak hanya melihat pemandangan romantis yang indah, tetapi samar-samar juga tercium aroma wangi yang lembut. Sangat cocok digunakan untuk mengajak kupu-kupu datang ke halaman rumah.

Jenis Tanaman Melati Belanda

Tanaman Melati Belanda mungkin sudah lama dikenal sebagai tanaman merambat untuk pagar halaman atau kanopi rumah. Ada 2 jenis Melati Belanda yang diperdagangkan, yaitu:

  1. Jenis Rangoon Creeper: Chinese honeysuckle, yang memiliki sifat merambat. Jika ditanam langsung di tanah, fisiknya tidak bisa tegak, namun merimbun seperti semak. Bunganya berwarna merah dengan gradasi tak terlalu menonjol.
  2. Jenis Capadia Compacta: Tanaman yang berasal dari Thailand dan India ini memiliki karakter yang mampu berdiri tegak dan kompak. Meski tetap aman, tetapi untuk penggunaan bisa lebih fleksibel.

Menanam Melati Belanda

Tanaman Melati Belanda membutuhkan banyak sinar matahari untuk mengoptimalkan pertumbuhannya sehingga mampu mengeluarkan keindahan bunganya. Dan tentu saja karena batangnya yang lemah, harus ditanam di dekat pagar atau dengan tiang penyangga.

Pilih tempat yang cerah dan lembab. Sementara tanaman honeysuckle dapat mentolerir hampir semua lokasi, mereka akan tumbuh lebih subur di bawah sinar matahari. Jika memungkinkan, tanamlah Melati Belanda di lokasi yang menerima sinar matahari penuh. Lokasi yang Anda pilih juga harus memiliki tanah yang menyimpan air tanah yang baik. Tanpa sinar matahari, tanaman melati Belanda tidak akan berbunga banyak dan kadang daunnya rontok

Karena bunga melati Belanda sedang memanjat bunga seperti cara menanam bunga anggur maka beri penyangga pada tanaman ini jika diperlukan. Setelah memilih lokasi, tentukan apakah tanaman akan berfungsi sebagai penutup tanah atau apakah melati Belanda akan memanjat struktur penyangga nanti. Jika Anda ingin menggunakan melati Belanda sebagai penutup tanah, Anda tidak perlu memasang tiang pendukung.

Jika Anda ingin membiarkan melati Belanda menyebar, Anda perlu menanamnya di dekat dinding atau pagar, atau memasang terali, tiang, dinding, atau pagar. Jika Anda tidak menanam melati Belanda di dekat pagar atau dinding, berilah tiang pendukung sebelum menanam Melati Belanda. Jika Anda memasang penyangga setelah meletakkan tanaman di tanah, Anda dapat merusak sistem akar tanaman.

Manfaat

Tumbuhan ini berkhasiat antitumor, ia juga berkhasiat askarisidal (ascaricidal) dan bekerja secara kompetitif dengan asam glutamat pada reseptor metabotropis glutamat, serta terkenal sebagai obat cacing. Hendaknya, jangan meminum ramuan ini bersamaan dengan teh, dikhawatirkan bisa cegukan.[1]

 

 

Palem kuning

Palem kuning (Dypsis lutescens) adalah tanaman hias populer yang biasa dijumpai di pekarangan. Tumbuhan anggota suku pinang-pinangan (Arecaceae)[1] ini berasal dari Madagaskar namun di tempat asalnya sekarang terancam.[2]

Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga setinggi 6 meter, meskipun biasanya di pekarangan hanya setinggi 3 meter karena alasan keindahan. Seperti palem lainnya, daun tersusun majemuk, menyirip. Warna helai daun hijau terang, cenderung kekuningan (sehingga disebut palem kuning). Daun ini memiliki pelepah daun yang cukup panjang dan menutupi batang yang beruas-ruas. Jumlah anak daun sekitar 80 hingga 100 lembar.

Mayangnya dapat mencapai 1m dengan bunga berwarna kuning. Buah berdiameter hingga 2,5m dan berwarna kuning hingga ungu.

Perbanyakannya relatif mudah karena dapat diperbanyak secara vegetatif.

Bunga Seruni

Bunga seruni, krisan, atau krisantemum adalah sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sbg tanaman hias pekarangan atau bunga petik. Tumbuhan berbunga ini mulai muncul pada zaman Kapur. Bunga seruni adalah bidang dari tumbuhan suku kenikir-kenikiran atau Asteraceae yang mencakup bermacam-macam jenis Chrysanthemum.

Uraian

Krisan berasal dari bahasa Yunani, yaitu chrysos yang berarti emas dan anthe mom yang bera rti bunga (Horst dan Nelson 1997). Krisan berasal dari dataran Cina. mulai menyebar dan mulai dibudidayakan pada abad keempat di Jepang. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial (BAPPENAS 2000). Menurut Rukmana dan Mulyana (1997), terdapat 1.000 varietas krisan yang tumbuh di dunia. Varietas krisan yang banyak ditanam di Indonesia umumnya diintroduksi dari luar negeri terutama dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Bunga krisan sangat populer di masyarakat karena banyaknya jenis, bentuk dan warna bunga. Krisan merupakan tanaman bunga hias dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower). Krisan merupakan tanaman semak setinggi 30-200 cm. Daur hidup tanaman krisan dapat bersifat semusim (annual) dan tahunan (perennial) (Rukmana dan Mulyana 1997). Krisan dapat disebut tanaman semusim bila siklus hidupnya selesai setelah bunga dipanen. Berbeda dengan krisan tahunan yang perlu dilakukan pemangkasan untuk menumbuhkan tunas-tunas baru agar dapat tumbuh kembali (Allard 1960). Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang.

Kopi Robusta

Robusta (nama Latin Coffea canephora atau Coffea robusta) merupakan keturunan beberapa spesies kopi, terutama Coffea canephora. Jenis kopi ini tumbuh baik di ketinggian 400-700 m dpl, temperatur 21-24° C dengan bulan kering 3-4 bulan secara berturut-turut dan 3-4 kali hujan kiriman. Kualitas buah lebih rendah dari Arabika dan Liberika

 

Uraian

Tanaman ini memiliki sistem akar yang dangkal dan tumbuh menjadi pohon atau perdu hingga mencapai 10 meter. Masa berbunganya tidak teratur dan membutuhkan sekitar 10-11 bulan bagi buahnya untuk masak, hingga menghasilkan biji kopi yang diinginkan. Kopi robusta menghasilkan lebih banyak panen daripada jenis arabika, dan mengandung lebih banyak kafein, yakni 2,7% dibandingkan dengan arabika yang mengandung 1,5% saja.[1] Selain itu, robusta juga lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit,[2] sehingga membutuhkan lebih sedikit herbisida dan pestisida daripada perkebunan arabika.

Persebaran

  1. canephoraberasal dari hutan dataran tinggi di Ethiopia, yang juga tumbuh di bagian Afrika Tengah dan Afrika Barat, terbentang dari Liberia hingga Tanzania dan bagian selatan Angola. Tetumbuhan ini tidak dikenali sebagai spesies kopi hingga tahun 1897,[3]seabad lebih setelah penemuan spesies Coffea arabica.Robusta juga dilaporkan telah diperkenalkan di Kalimantan, Polinesia Prancis, Kosta Rika, Nikaragua, Jamaika dan Antillen Kecil.

SIRSAK

Sirsaknangka belanda, atau durian belanda[2] (Annona muricata L.) adalah tumbuhan berbunga yang berasal dari KaribiaAmerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai nangka sebrangnangka landa (Jawa), nangka walandasirsak (Sunda), nangka buris, nangkèlan, nangka ènglan (Madura), srikaya jawa (Bali), boh lôna (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau),durian belanda (Malaysia), serta jambu landa (di Lampung, “Nangko Belando” (Palembang). Penyebutan “belanda” dan variasinya menunjukkan bahwa sirsak (dari bahasa Belandazuurzak, berarti “kantung asam”) didatangkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ke Nusantara, yaitu pada abad ke-19, meskipun bukan berasal dari Eropa.[3]

Uraian

Tanaman ini ditanam secara komersial untuk diambil daging buahnya. Tumbuhan ini dapat tumbuh di sembarang tempat, paling baik ditanam di daerah yang cukup berair. Nama sirsak sendiri berasal dari bahasa Belanda. Zuurzak. yang berarti “kantung yang asam”.[4]

Tanaman ini ditanam secara komersial atau sambilan untuk diambil buahnya. Pohon sirsak memiliki model troll, dengan ketinggian 8-10 meter. Di Indonesia sirsak dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 1000 m dari permukaan laut. Buah sirsak tergolong ke dalam tanaman tahunan. Daun sirsak memiliki warna hijau tua dan hikau muda, dengan panjang 6-18 cm dengan lebar 3-7 cm. Selain itu, daun sirsak memiliki tekstur daun yang kasar dan berbentuk bulat telur dengan lancip pendek pada bagian ujungnya serta mengkilap pada bagian atasnya. Daun sirsak memiliki bau yang sangat menyengat dengan tangkai daun yang berukuran pendek, hanya 3-10 mm.[5]

Buah sirsak bukan buah sejati, yang ukurannya cukup besar hingga 20–30 cm dengan berat mencapai 2,5 kg. Yang dinamakan “buah” sebenarnya adalah kumpulan buah-buah (buah agregat) dengan biji tunggal yang saling berhimpitan dan kehilangan batas antar buah. Daging buah sirsak berwarna putih dan memiliki biji berwarna hitam. Buah ini sering digunakan untuk bahan baku jus minuman serta es krim. Buah sirsak mengandung banyak karbohidrat, terutama fruktosa. Kandungan gizi lainnya adalah vitamin Cvitamin B1 dan vitamin B2 yang cukup banyak.[6] Bijinya beracun, dan dapat digunakan sebagai insektisida alami, sebagaimana biji srikaya.

Manfaat

Manfaatnya dapat membunuh parasit, membersihkan pencernaan, meredakan saluran pernapasan, menghilangkan stres, kesehatan kulit, meningkatkan kekebalan tubuh.

Berdasarkan penelitian Dr. Jerry McLaughlin dari Purdue University dan Prof. Dr. Soelkasono Sastrodihardjo dari Departemen Biologi ITB, daun sirsak sangat ampuh digunakan untuk mengobati penyakit kanker.

Glodokan Tiang

polyalthia longifolia atau kerap juga disebut glodogan tiang ialah diantara pohon yg benar-benar digemari banyak orang di indonesia. Pohon ini sebagai satu diantara pohon yang disebut pohon evergreen. Mengapa, sebab pohon ini sanggup tumbuh dengan baik biarpun berjalan perubahan cuaca, iklim dan sekelilingnya. Berarti pohon ini tak punya pengaruh dengan cara mencolok pada situasi sekitarnya tanpa ada menggugurkan daunnya.

Uraian

polyalthia longifolia atau glodogan tiang tumbuh tinggi tegak lurus ke atas, bisa menjangkau lebih kurang 30 hingga 35 mtr.. Pohon ini nampak menarik dan bagus dengan style arsitektur pohonnya yang lurus. Tanaman ini bagus ditanam serta dipindahkan sementara capai tinggi satu hingga dua mtr.. Ada diantara satu kekurangan dari model tanaman ini, yaitu kalau kala dipindahkan dalam perkembangan tinggi sekitar 5 meter, maka tanaman ini juga akan mengalami stress dan kering cukup lama, seputar sebulan baru dapat kembali.

 

Morfologi Tanaman Glodokan

Setelah mengenal klasifikasi dari tanaman glodokan, kali ini akan membahas morfologi dari tanaman glodokan. Mengenal morfologi tanaman glodokan,  dapat memberikan pengetahuan baru tentang cirri fisik dari glodokan ini. \

Oleh karena itu, inilah penjelasan mengenai morfologi tanaman glodokan  dimulai dari morfologi akar, batang, daun hingga bunga.

1. Morfologi Akar Glodokan

Akar dari tanaman glodokan ini berukuran besar dan menembus ke tanah, meskipun tidak dangkal. Akar glodokan ini tidak mengganggu bangunan di sekitar, karena akar dari glodokan ini tidak menjalar secara ekstensif. Oleh karenanya, tanaman glodokan ini sering dijumpai di jalan perkotaan sebagai pohon peneduh jalan.

2. Morfologi Batang Glodokan

Tanaman glodokan memiliki batang yang kuat dan kokoh. Selain itu, ketinggian dari tanaman ini mencapai 5 hingga 8 meter.

Tanaman yang berbentuk seperti piramida ini tumbuh mengerucut ke atas. Akan tetapi, jika tanaman ini dapat muncul sarang semut di bagian batang yang bisa menyebabkan batang terkelupas dna rusak, apabila tanaman tidak dirawat dengan baik agar sehat.

3. Morfologi Daun Glodokan

Daun dari tanaman glodokan memiliki bentuk lanset dan memanjang. Tanaman glodokan juga memiliki bagian tepi daun yang bergelombang dengan pertulangan daun menyirip.

Daun tanaman glodokan berwarna hijau. Biasanya glodokan ini digunakan sebagai ornamen penghias dalam acara festival.

4. Morfologi Bunga Glodokan

Bunga dari tanaman glodokan ini beukuran kecil dengan warna kuning kehijauan. Bunga glodokan ini tumbuh di bagian ketiak daun.

Bentuk dari bungan glodokan ini seperti payung serta pangkal dan mahkotanya berdekatan sehingga membentuk corong dan berwarna putih. Putik dari tanaman glodokan ini  berwarna dan kepala sari berwarna jingga.

5. Morfologi Buah Glodokan

Tanaman golodokan memiliki buah yang bentuknya menyerupai buah buni. Bentuk buah bulat oval memanjang dan berwarna kemerahan hingga kekuningan. Buah ini juga memiliki biji yang berbentuk pipih hingga bulat yang berwarna kecoklatan hingga kehitaman.

Nah, itu tadi sekilas mengenai klasifikasi dan morfologi dari tanaman glodokan. Tanaman ini cocok digunakan alternatif tanaman hias di dalam rumah.

Tanaman glodokan ini dikenal sebagai pohon peneduh. Selain itu, glodokan juga berfungsi sebagai penyerap polusi udara ini banyak dujumpai di trotoar jalan perkantoran.

Meskipun tanaman ini banyak ditemui di sepinggir jalan raya, tanaman ini juga cocok ditanam di dalam rumah. Karena tanaman ini juga berfungsi sebagai peredam suara dan memiliki nilai estetik tersendiri yang mudah dilakukan perawatannya di rumah ataupun ruang sempit.

Palem Jari

Palem jari (Rhapis excelsa) adalah spesies tanaman hias yang termasuk ke dalam genus Rhapis dalam suku arecaceae

Uraian

Rhapis excelsa merupakan jenis palem yang banyak ditemukan hampir di seluruh dunia. Penyebaran populasinya yang luas dikarenakan kemampuannya mudah beradaptasi terhadap tanah, iklim dan lingkungan tropis maupun subtropis.[3] Luz et al. (2011) melaporkan bahwa R. excelsa merupakan tanaman hias yang banyak dibudidayakan di seluruh dunia, terutama untuk daerah teduh.

Ekologi dan penyebaran

Di Indonesia tanaman ini berkembang dan tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Palem ini dapat tumbuh baik pada ketinggian antara 50-500 m dpl. Pada daerah dataran rendah R. excelsa mempunyai pertumbuhan vegetatif lebih cepat, warna daun lebih muda dan cerah, kurang mengkilat, kurang tebal dan kurang keras. Sebaliknya, pada daerah dataran tinggi pertumbuhan vegetatifnya lebih lambat, warna daun lebih tua, mengkilat, daun agak tebal dan lebih keras.

Manfaat

Tanaman ini banyak dimanfaatkan masyarakat luas sebagai tanaman hias di ruangan, di halaman (taman) bahkan sebagai bunga potong. Penampilannya yang anggun, menarik dan indah, terutama bila dibentuk rangkaian sangat disukai oleh masyarakat di negara-negara subtropis. Selain itu, perawatannya sangat mudah dan relatif tahan terhadap perubahan cuaca. R. exelsa memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas unggulan. Tanaman hias ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan disukai konsumen dalam dan luar negeri. Tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk pembuatan taman (landsekap). Di beberapa negara sangat dikenal sebagai tanaman hias yang eksklusif.

 

Pandan Bali

Pandan bali (Cordyline australis) (Inggriscabbage tree)[1] adalah tumbuhan hijau abadi endemik dari Selandia Baru. Tumbuhan ini memiliki cabang-cabang gemuk yang tumbuh dari batang intinya. Daunnya panjang dan berbentuk seperti pedang

Uraian

Panjang rata-rata daun tersebut adalah 30-100 cm. Daun-daun tersebut tumbuh mengumpul di titik ujung cabang-cabangnya. Bunga-bunganya berwarna putih-krim dan terkumpul pada malai-malai yang besar. Tumbuhan ini ditemukan mulai dari hutan pesisir pantai hingga hutan di zona montane, tetapi paling sering ditemukan di zona pinggir sungai.[2][3]

Populasi tumbuhan ini mulai menurun di beberapa daerah di Selandia Baru karena sebuah penyakit yang disebut sebagai “Sudden Decline” (penurunan tiba-tiba). Wabah penyakit tersebut diperkirakan mulai menyebar pada tahun 1980-an awa

Nama ilmiah (botanical name): Cordyline australis
Bibit berasal dari: stek batang
Rekomendasi dataran dan kondisi tempat tumbuh optimal: dataran rendah – tinggi, suhu panas maupun dingin
Kebutuhan sinar matahari: full sun (penyinaran sepanjang hari)
Jika ditanam di pot, rekomendasi ukuran pot: diameter 20-30 cm
Media tanam yang digunakan: tanah humus atau tanah kompos
Intensitas penyiraman: hanya ketika media tanam kering (kebutuhan air tidak banyak)
Ilustrasi ukuran tanaman saat dikirim ke Anda: 20-40 cmIlustrasi tinggi tanaman ketika tumbuh besar: kurang lebih 300 cm
Tips pemberian pupuk (pemupukan): dilakukan kira-kira 30 hari sekali, menggunakan pupuk NPK Daun